Description
merona, menjadi keteduhan yang selalu dinanti oleh Latusha
Aubrille. Sudah hampir selama 1 jam sepasang netra hazel itu bersitegang
dengan sisa-sisa pancaran binar sang baskara yang menjadi amunisinya
akhir- akhir ini.
Suara letupan jejak rintik hujan yang tertinggal menyapa rok
putih abu-abunya menjadi terabaikan sebab perasaan-perasaan sakit hati
tertimbun dalam afeksi. Hujan berjuta meteor pembawa kehancuran
telah siap ditunggu sebagai harapan di setiap ulang tahunnya, untuk
mengacaukan benak orang-orang yang memberi batasan akan hal-hal
yang tidak perlu.
Sayang sekali, Latusha melantunkan pengharapan itu untuk
ayahnya sendiri. Latusha jadi benci rumah sejak kelahirannya dibatasi
oleh pendapat-pendapat di luar nalar mengenai bahwa ia terlahir sebagai
seorang perempuan. Apa salahnya dengan itu? Sayangnya, berbagai
estimasi ditelan dan menjadi sarapan keseharian Latusha mengenai
beredarnya diskriminasi yang ditetapkan oleh papanya di rumah.
“Anak perempuan itu, lebih baik banyak di dalam rumah,
Latusha.” Itu yang selalu dikatakan Radin kepada anak gadisnya.
Sedangkan Aradea, bundanya itu hanya bisa bungkam saat Latusha
diselimuti ketidakadilan yang sama seperti dirinya.
Pengarang : Afifa Agrraeni, dkk Penerbit :MNC Publishing ISBN: 978-623-175-996-2 Tahun Terbit :2026 Hlm :168








There are no reviews yet.