Description
Globalisasi yang menurut McLuhan akan menghasilkan suatu Desa Global mendapatkan sanggahan dari Manuel Castells. Bagi Castells yang terjadi adalah masyarakat yang saling terhubung (network society). Untuk itu, globalisasi tidak sampai mampu merevolusi budaya, sebagaimana yang disampaikan oleh McLuhan. Masyarakat jaringan merupakan fenomena baru yang hadir abad ke-20, yang merupakan masyarakat di mana struktur-struktur organisasi dan elemen-elemen berjalan dengan logika jaringan. Masyarakat jaringan adalah di mana individu-individu saling terhubung dengan individu lain yang keberadaannya entah di mana.
Penemuan internet telah menghasilkan ruang dan media baru, dengan karakteristik masyarakat yang berbeda, dan juga munculnya budaya-budaya baru. Cyberspace atau ruang maya telah melahirkan tipe masyarakat baru yang begitu interaktif dalam berkomunikasi. Tak hanya sekadar menjadi konsumen dari berbagai macam informasi dan konten media baru, namun khalayak umum dapat pula berperan sebagai produsen sekaligus distributor informasi dan konten media baru.
Secara kategoris kehidupan masyarakat modern sekarang dapat dibedakan dalam tiga macam masyarakat, yaitu masyarakat realitas, masyarakat simbolik, dan masyarakat siber (cyber society). Fenomena masyarakat realitas, merujuk pada masyarakat yang menciptakan dan mengolah makna, yang terbentuk oleh interaksi sosial di dunia nyata. Masyarakat simbolik adalah masyarakat yang dibentuk oleh konstruksi media atas realitas yang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan masyarakat siber (cyber society) berada dalam struktur model komunikasi yang kompleks. Secara mendasar, setiap orang dipaksa untuk melek atau harus tahu media digital yang berbasis pada teknologi digital sebagai syarat untuk bisa menjadi konsumen informasi maupun produsen informasi. Di dalam masyarakat siber terjadi implotion realitas, di mana realitas nyata dan realitas simbolik bercampur dengan realitas palsu akhirnya menimbulkan ledakan ke dalam dan mengaburkan realitas di dalamnya. Kebenaran menjadi semakin sulit untuk ditemukan dalam kehidupan masyarakat siber, karena tumbuh suburnya “realitas palsu” tersebut.
TENTANG PENULIS
Catur Nugroho, S.Sos., M.I.Kom., pengajar matakuliah Kajian Budaya dan Media, Ekonomi Politik Media dan Komunikasi Politik pada Prodi Ilmu Komunikasi Telkom University Bandung.Saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa S-3 Kajian Budaya dan Media, Program Pascasarjana UGM Yogyakarta. Aktif sebagai Peneliti Utama pada Indonesian Political Opinion (IPO). Pernah menjadi Koordinator Divisi Riset Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi pada 2017–2019. Aktif sebagai Pengurus Pusat Indonesian Qualitative Researcher Association (IQRA) pada Divisi Riset dan Publikasi. Aktif di Jaringan Pegiat Anti Korupsi Kawan Bung Hatta.











There are no reviews yet.